Rabu, 07 April 2010

Beriman kepada Para Malaikat

Orang Muslim beriman kepada malaikat-malaikat Allah Ta’ala. Bahwa mereka adalah makhluk-Nya yang paling mulia, hamba-hamba-Nya yang dimuliakan di antara hamba-hamba-Nya. Allah Ta’ala menciptakan mereka dari cahaya, sebagaimana Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar. Dan menciptakan jin dari nyala api yang tidak ada asap di dalamnya. Bahwa Allah Ta’ala memberikan tugas-tugas kepada para malaikat, kemudian mereka menjalankannya. Di antara mereka ada yang ditugaskan menjaga hamba-hamba-Nya, ada yang ditugaskan mencatat amal perbuatan manusia, ada yang ditugaskan menjaga surga dan kenikmatannya, ada yang ditugaskan menjaga neraka dan siksanya, ada yang ditugaskan bertasbih pada malam hari, dan ada yang ditugaskan bertasbih pada siang hari tanpa merasa lelah sedikitpun.

Serta bahwa Allah Ta’ala melebihkan sebagian malaikat atas sebagian malaikat yang lain di antara mereka ada malaikat-malaikat yang didekatkan kepada-Nya seperti Malaikat Jibril, Malaikat Mikail, dan Malaikat Israfil, dan ada malaikat-malaikat yang tidak didekatkan pada-Nya.

Orang Muslim mengimani itu semua karena petunjuk Allah Ta’ala kepadanya, kemudian karena dalil-dalil wahyu, dan dalil-dalil akal.

Dalil-Dalil Wahyu

  1. Perintah Allah Ta’ala untuk beriman kepada para malaikat, dan penjelasan-Nya tentang mereka,

“Barang siap kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (An-Nisa’: 136).

“Barang siapa menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.” (Al-Baqarah: 98).

“Al-Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah).” (An-Nisa’: 172).

“Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. “Dan pada hari itu, delapan malaikat menjunjung Arasy Tuhanmu di atas (kepala) mereka.” (Al-Haqqah: 17).

“Dan kami tidak menjadikan penjaga neraka melainkan dari malaikat.” (Al-Muddatstsir: 31)

“Dan malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. (sambil mengucapkan), ‘Salam sejahtera atas kalian karena kesabaran kalian. ‘Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu...” (Ar-Ra’du: 23-24)

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. ‘Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau? Tuhan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui’.” (Al-Baqarah: 30).

  1. Penjelasan dan sabda Rasulullah saw. tentang para malaikat,

“Ya Allah Tuhannya Jibril, Tuhannya Mikail, Tuhannya Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui alam ghaib dan alam nyata, Engkau memutuskan di antara hamba-hamba-Mu dalam apa yang mereka perselisihkan, berilah aku petunjuk kepada kebenaran yang mereka berselisih di dalamnya dengan izin-Mu, karena Engkau memberi petunjuk siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.” (Diriwayatkan Muslim).

“Langit bersuara, dan ia layak bersuara. Di dalamnya tidak ada satu tempat pun untuk empat jari-jari, melainkan di atasnya terdapat malaikat yang sujud.” (Diriwayatkan Ibnu Abu Hatim, namun hadits ini cacat).

“Sesungguhnya Al-Bait Al-Ma’mur (rumah di langit ke tujuh yang dikelilingi para malaikat) dalam setiap hari dimasuki tujuh puluh ribu malaikat dan mereka tidak keluar daripadanya.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).

“Pada hari Jum’at, di setiap pintu-pintu masjid terdapat malaikat-malaikat yang menulis. Orang pertama dan seterusnya. Jika imam telah duduk, maka para malaikat menutup buku catatannya, kemudian mereka mendengarkan dzikir.” (Diriwayatkan Imam Malik, Hadits ini shahih).

“Terkadang malaikat menjelma kepadaku seperti orang laki-laki, kemudian ia berbicara kepadaku dan aku memahami apa yang ia ucapkan.” (Diriwayatkan Al-Bukhari).

“Malaikat malam dan malaikat siang secara bergantian datang kepada kalian.” (Diriwayatkan Al-Bukhari).

“Allah menciptakan malaikat dari cahaya, menciptakan jin dari nyala api, dan menciptakan Adam dari apa yang telah disifatkan (dijelaskan) kepada kalian.” (Diriwayatkan Muslim).

  1. Penglihatan sejumlah besar sahabat kepada para Malaikat di Perang Badar, dan penglihatan mereka secara kolektif lebih dari sekali kepada Malaikat Jibril, penyampai wahyu, sebab terkadang Malaikat Jibril datang dalam bentuk kera betina, dan para sahabat bisa melihatnya. Yang paling terkenal dalam hal ini ialah hadits Umar bin Khaththab r.a. dalam Shahih Muslim di mana di dalamnya Rasulullah saw. bersabda, “Tahukah kalian siapa penanya tadi?” Para sahabat menjawab, “Allah, dan Rasul-Nya lebih tahu.” Rasulullah saw. bersabda, “Penanya tadi adalah Malaikat Jibril. Ia datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kepada kalian.”
  2. Keimanan miliaran orang dari kaum Mukminin pengikut para rasul di semua zaman dan tempat kepada para malaikat, dan pembenaran mereka terhadap penjelasan para rasul tentang para malaikat tersebut tanpa ragu-ragu.

Dalil-Dalil Akal

  1. Sesungguhnya akal tidak memustahilkan keberadaan para malaikat, dan tidak memungkiriya, karena akal hanya memustahilkan dan memungkiri pertemuan dua hal yang saling berlawanan, seperti sesuatu itu ada dan tidak ada pada saat sama, atau keberadaan dua hal yang saling bertentangan, seperti keberadaan gelap dan terang pada saat yang sama. Iman kepada para malaikat tidak mengharuskan itu semua.
  2. Jika telah diterima kalangan manusia, bahwa bekas sesuatu itu menunjukkan keberadaan sesuatu tersebut, maka para malaikat juga mempunyai bekas yang banyak sekali yang mengharuskan dan menegaskan keberadaan mereka, di antaranya:
    • Sampainya wahyu kepada para nabi, dan para rasul, sebab pada umumnya wahyu sampai pada mereka melalui perantaraan malaikat Jibril yang ditugaskan menyampaikan wahyu. Ini bekas nyata yang tidak bisa dipungkiri, dan itu menegaskan dan menguatkan keberadaan para makaikat.
    • Banyak sekali manusia wafat karena nyawanya dicabut oleh malaikat. Ini juga bekas nyata yang menegaskan keberadaan Malaikat Pencabut Nyawa, dan malaikat-malaikat lainnya. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah, ‘Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) kalian akan mematikan kalian.” (As-Sajdah: 11).
    • Penjagaan malaikat terhadap manusia dari gangguan jin, dan gangguan syetan, serta kejahatan keduanya sepanjang hidup manusia. Manusia hidup di antara jin, dan syetan. Jin dan syetan bisa melihat manusia sedang manusia tidak dapat melihat keduanya, dan keduanya mampu mengganggu manusia, sedang manusia tidak sanggup mengganggu keduanya, atau bahkan menolak gangguan keduanya saja manusia tidak sanggup melakukannya. Itu semua adalah bukti keberadaan Malaikat Penjaga Manusia yang melindungi manusia, dan menolak gangguan dari mereka. Allah Ta’ala berfirman, “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” (Ar-Ra’du: 11).
  3. Ketidakmampuan seseorang untuk melihat sesuatu, karena penglihatannya lemah, atau karena ia tidak mempunyai persiapan sempurna untuk melihat sesuatu tersebut itu tidak memungkiri keberadaannya sesuatu tersebut, sebab di dunia ini banyak sekali hal-hal yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, namun sekarang bisa dilihat dengan jelas dengan perantaraan mikroskop.

Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 19-23.

Beriman kepada Kitab-Kitab Allah Ta'ala

Orang Muslim beriman kepada semua Kitab yang pernah diturunkan Allah Ta'ala, dan semua Shuhuf yang diberikan Allah Ta'ala kepada sebagian rasul-Nya. Serta bahwa itu semua adalah firman-Nya yang diwahyukan kepada rasul-rasul-Nya agar mereka menyampaikan Syari'at dan agama dari-Nya. Kitab terbesar ialah empat kitab: Al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s., Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud a.s., dan Injil yang diturunkan kepada hamba Allah dan Rasul-Nya, Isa 'Alaihis Salam. Al-Qur'an adalah kitab teragung di antara keempat kitab tersebut, pengendali kitab-kitab tersebut, dan penghapus semua Syariat dan hukum-hukum kitab-kitab sebelumnya, berdasarkan dalil-dalil wahyu dan dalil-dalil akal sebagai berikut.

Dalil-Dalil Wahyu

  1. Perintah Allah Ta'ala untuk beriman kepada Kitab-Kitab-Nya dan penjelasan Allah tentang kitab-kitab tersebut. Allah Ta'ala berfirman,
    • "Hai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dna kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya." (An-Nisa': 136).
    • "Dia menurunkan Al-Kitab (Al-Qur'an) kepadamu dengan sebenarnya membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil. Sebelum (Al-Qur'an), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al-Furqan." (Ali Imran: 3-4).
    • "Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain." (Al-Maidah: 48).
    • "Dan Kami berikan Zabur kepada Daud." (An-Nisa: 163).
    • "Dan sesungguhnya Al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Al-Qur'an dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril). Ke dalam hatimu (Muhamma) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan. Dengan bahasa Arab yang jelas. Dan sesungguhnya Al-Qur'an itu benar-benar (tersebut) dalam Kitab-kitab orang yang dahulu." (Asy-Syua'ra': 192-196).
    • "Sesunguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu. (Yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa." (Al-A'la: 18-19).
  2. Penjelasan Rasulullah saw. tentang kitab-kitab tersebut dalam banyak sekali hadits, misalnya,
    • "Sesungguhnya keberadaan kalian terhadap orang-orang sebelum kalian ialah seperti waktu antara shalat Ashar dengan terbenamnya matahari. Pemeluk Kitab Taurat diberi Kitab Taurat, kemudian mereka mengamalkannya hingga pertengahan siang, kemudian mereka tidak mampu melaksanakannya kemudian diberi uang satu qirath satu qirath (pecahan uang dinar). Pemeluk Kitab Injil diberi Kitab Injil, kemudian mereka mengamalkannya hingga shalat Ashar dikerjakan, kemudian mereka tidak mampu mengamalkannya, kemudian mereka diberi uang satu qirath satu qirath. Kemudian kalian diberi Al-Qur'an, kemudian kalian mengamalkannya hingga matahari terbenam, kemudian kalian diberi uang dua qirath dua qirath. Para Ahli Kitab berkata, ‘Mereka lebih sedikit amal perbuatannya daripada kami, namun lebih banyak pahalanya,' Allah berfirman, ‘Apakah Aku mengurangi sedikitpun dari hak kalian?' Mereka menjawab, ‘Tidak'.
    • Allah berfirman, 'Itulah karunia-Ku yang Aku berikan kepada siapa yang Aku kehendaki'. (Diriwayatkan Al-Bukhari).
    • "Bacaan diperingan bagi Nabi Daud, kemudian ia memeritnahkan hewannya diberi pelana, kemudian ia membaca Taurat atau Injil sebelum hewannya diberi pelana, dan ia tidak akan makan kecuali dari hasil kerja tangannya sendiri." (Diriwayatkan Al-Bukhari).
    • "Tidak boleh dengki, kecuali kepada dua orang: Orang yang diberi Al-Qur'an oleh Allah, kemudian ia membacanya di pertengahan malam, dan pertengahan siang. Dan orang yang diberi harta, kemudian ia menginfakkannya di pertengahan malam, dan di pertengahan siang." (Diriwayatkan Al-Bukhari).
    • "Aku tinggalkan pada kalian selagi kalian berpegang teguh padanya, kalian tidak akan sesat, yaitu Kitabullah, dan Sunah Rasul-Nya." (Diriwayatkan Al-Hakim. Hadits ini shahih).
    • "Kalian jangan membenarkan Ahli Kitab, dan jangan mendustakan mereka. Namun ucapkanlah, ‘Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami dan diturunkan kepada kalian, Tuhan kita, dan Tuhan kalian adalah satu, dan kita menyerahkan diri kepada-Nya'." (Diriwayatkan Al-Bukhari).
  3. Keimanan jutaan ulama, orang-orang bijak, dan orang-orang beriman di setiap zaman dan tempat, dan keyakinan kuat mereka bahwa Allah Ta'ala telah menurunkan kitab-kitab yang diwahyukan kepada rasul-rasul-Nya, manusia terbaik pilihan-Nya.

Dalil-Dalil Akal

  1. Kelemahan manusia dan kebutuhannya kepada Tuhan mereka dalam memperbaiki jasmani dan ruhaninya. Itu menghendaki penurunan kitab-kitab-Nya, yang berisi undang-undang dan hukum-hukum, yang mewujudkan kesempurnaan pada manusia dan apa yang mereka butuhkan dalam kehidupan dunia mereka dan kehidupan akhirat mereka.
  2. Para rasul adalah mediator antara Allah Ta'ala dengan hamba-hamba-Nya. Para rasul tersebut tidak berbeda dengan manusia lainnya yang hidup pada zaman tertentu, kemudian meninggal dunia. Jika mereka tidak memiliki risalah yang dikandung kitab tertentu, pastilah risalah mereka hilang begitu saja bersamaan dengan kematian mereka. Dan manusia sepeninggal mereka hidup tanpa risalah dan tanpa mediator. Akibatnya, hilanglah tujuan utama wahyu dan risalah. Tidak diragukan lagi, bahwa kondisi ini menghendaki penurunan kitab-kitab Ilahiyah.
  3. Jika rasul menyeru kepada Allah Ta'ala tidak membawa Kitab dari Tuhannya, yang di dalamnya terdapat undang-undang, petunjuk, dan kebaikan, maka dengan mudah manusia mendustakannya dan mengingkari risalahnya. Jadi, kondisi ini menghendaki penurunan Kitab-Kitab Ilahiyah untuk menegakkan hujjah pada manusia.

Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 24-27.

Beriman kepada Al-Qur'an Al-Karim

Orang Muslim beriman bahwa Al-Qur'an Al-Karim adalah firman Allah Ta'ala yang diturunkan kepada manusia terbaik, nabi terbaik, dan rasul termulia, Muhammad saw., sebagaimana Allah Ta'ala menurunkan kitab-kitab yang lain kepada rasul-rasul sebelumnya. Orang muslim juga menyakini bahwa Al-Qur'an Al-Karim dengan hukum-hukumnya itu menghapus semua hukum-hukum pada kitab-kitab samawi terdahulu, sebagaimana risalah pembawanya (Rasulullah saw.) itu menghapus semua risalah terdahulu.

Orang Muslim menyakini bahwa Al-Qur'an Al-Karim adalah Kitab yang mengandung Undang-Undang Rabbani Terbesar. Allah Ta'ala yang menurunkannya menjamin bahwa orang yang mengambilnya, pasti bahagia di kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat, dan mengancam bahwa barang siapa berpaling daripadanya dan tidak mengambilnya, ia pasti celaka di kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.

Orang Muslim menyakini bahwa Al-Qur'an Al-Karim adalah kitab satu-satunya yang dijamin bersih oleh Allah Ta'ala dari kekurangan, penambahan, pengartian, dan perubahan serta menjamin abadi hingga Dia mengangkatnya pada akhir usia kehidupan ini. orang menyakini itu semua berdasarkan dalil-dalil wahyu, dan dalil-dalil akal.

Dalil-dalil Wahyu

  1. Penjelasan Allah Ta'ala tentang hal tersebut dalam banyak firman-Nya misalnya firman-firman-Nya berikut.
    • "Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam." (Al-Furqan: 1).
    • "Kami ceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui." (Yunus: 3)
    • "Sesungguhnya Kami telah meurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (terhadap orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat." (An-Nisa': 105).
    • "Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kalian Rasul Kami, menjelaskan kepada kalian banyak dari isi Al-Kitab yang kalian sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari sisi Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap-gulita kepada cahaya terang-benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus." (Al-Ma'idah: 15-16).
    • "Maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (Thaha: 123-124)
    • "Sesungguhnya Al-Qur'an itu kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya kebatilan baik dari depan mau pun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan yang Mahabijaksana dan Maha Terpuji." (Fushshilat: 41-42).
    • "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (Al-Hijr: 9).
  2. Pejelasan Rasulullah saw. dalam hadits-haditsnya, misalnya hadits-hadits berikut.
    • "Ketahuilah, aku telah diberi Al-Kitab (Al-Qur'an) dan diberi hal yang sama dengannya." (Diriwayatkan Abu Daud, At-Tarmidzi, dan Ibnu Majah. Hadits ini shahih).
    • "Orang yang terbaik diantara kalian ialah orang yang belajar Al-Qur'an, dan mengajarkannya." (Diriwayatkan Al-Bukhari).
    • "Tidak boleh dengki, kecuali kepada dua orang: Orang yang diberi Al-Qur'an oleh Allah, kemudian ia membacanya di pertengahan malam dan pertengahan siang. Dan orang yang diberi harta, kemudian ia menginfakkannya di pertengahan malam dan pertangahan siang." (Diriwayatkan Al-Bukhari).
    • "Tidaklah salah seorang dari para nabi, melainkan ia diberi apa yang seperti ayat-ayat yang diimani manusia. Namun yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan Allah kepadaku. Aku berharap menjadi nabi yang paling banyak pengikutnya." (Diriwayatkan Muslim).
    • "Seandainya Musa atau Isa masih hidup, maka tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali mengikutiku." (Diriwayatkan Abu Ya'la).
  3. Keimanan miliaran kaum Muslimin bahwa Al-Qur'an Al-Karim adalah kitab Allah Ta'ala, dan wahyu-Nya yang diwahyukan kepada Rasul-Nya, pembacaan Al-Qur'an oleh mereka, hafalnya sebagian besar dari mereka, dan pengamalan mereka terhadap syari'at dan hukum-hukumnya.

Dalil-Dalil Akal

  1. Cakupan Al-Qur'an Al-Karim terhadap banyak sekali ilmu pengetahuan seperti berikut, padahal nabi yang menerimanya adalah buta huruf yang tidak bisa baca tulis, tidak pernah menemui penulis, atau masuk sekolah:
    • Pengetahuan tentang alam semesta.
    • Pengetahuan tentang sejarah.
    • Pengetahuan tentang perundang-undangan dan hukum.
    • Pengetahuan tentang perang dan politik.

Kandungan Al-Qur'an Al-Karim terhadap itu semua adalah bukti bahwa Al-Qur'an adalah firman Allah Ta'ala, dan wahyu dari-Nya. Sebab, akal memutuskan kemunculan ilmu pengetahuan seperti di atas dari orang buta huruf yang tidak bisa baca-tulis.

  1. Allah Ta'ala menurunkan Al-Qur'an menantang manusia untuk membuat seperti Al-Qur'an dengan firman-Nya, "Katakanlah, ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur'an ini, niscaya merka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain." (Al-Isra': 88).

Allah Ta'ala menantang para pakar bahasa Arab untuk membuat sepuluh surat seperti Al-Qur'an, atau satu surat saja, namun mereka tidak mampu melakukannya.

Ini semua bukti kuat, dan argumen akurat, bahwa Al-Qur'an adalah firman Allah Ta'ala, dan sama sekali bukan ucapan manusia.

  1. Kandungan Al-Qur'an terdapat banyak sekali informasi tentang hal-hal yang ghaib, dan sebagiannya terjadi persis seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur'an tanpa tambahan atau pengurangan. (Misalnya, penjelasan Al-Qur'an bahwa orang-orang Persia akan dikalahkan dalam beberapa tahun lagi. Dan betul, tidak lama setelah itu, orang-orang Persia dikalahkan orang-orang Romawi. Allah Ta'ala berfirman, "Aliif laam miim. Telah dikalahkan bangsa Romawi. Di negeri yang terdekat dan mereka, sesudah dikalahkan itu, akan menang. Dalam beberapa tahun lagi." (Ar-Ruum: 1-3).
  2. Selagi AllahTa'ala menurunkan Kitab-Kitab lain kepada selain Nabi Muhammad saw., seperti Taurat kepada Nabi Musa Alaihi Sallam, dan Injil Kepada Nabi Isa Alaihi Sallam, maka tidak bisa dipungkiri, bahwa Allah Ta'ala juga menurunkan Al-Qur'an, sebagaimana Dia menurunkan Kitab-Kitab sebelumnya. Apakah akal memustahilkan penurunan Al-Qur'an, dan menolaknya? Tidak, justru akal mewajibkan turunnya Al-Qur'an, dan mengharuskannya.
  3. Ramalan-ramalan Al-Qur'an terbukti terjadi persis seperti yang diramalkan Al-Qur'an dan kisal-kisahnya juga terjadi persis seperti diceritakan Al-Qur'an. Selain itu, hukum-hukumnya, syari'at-syari'atnya, dan undang-undangnya dipraktekkan kemudian berhasil mewujudkan apa yang diinginkannya, yaitu, keamanan, kejanyaan kemuliaan dan ilmu. Ini dibuktikan oleh sejarah negara khulafa'ur rasyidin.

Setelah ini semua, dalil apa lagi yang diminta untuk membuktikan bahwa Al-Qur'an adalah firman Allah Ta'ala, dan wahyu-Nya yang Dia turunkan kepada makhluk-Nya yang terbaik, penutup para nabi dan penutup para Rasul-Nya?

Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 27-31.

Beriman kepada Rasul-Rasul

Orang Muslim beriman bahwa Allah SWT telah memilih di antara manusia sebagai rasul-rasul, mewahyukan syari'at-Nya kepada mereka, menyuruh mereka menyampaikannya sebagai hujjah bagi-Nya pada hari kiamat, mengutus mereka dengan keterangan-keterangan, mendukung mereka dengan mukjizat-mukjizat, dimulai dari Nabi Nuh a.s. dan ditutup dengan Nabi Muhammad saw.

Kendati kebiasaan-kebiasaan manusia juga terjadi pada rasul-rasul: makan, minum, sakit, sehat, lupa, ingat, mati, dan juga hidup. Namun, mereka makhluk yang paling sempurna secara mutlak, dan paling mulia tanpa pengecualian. Iman seorang hamba tidak sempurna, kecuali dengan mengimani mereka secara global atau detail, karena dalil-dalil wahyu dan dalil-dalil akal.

Dalil-Dalil Wahyu

  1. Penjelasan Allah Ta’ala tentang rasul-rasul-Nya, pengutusan mereka, dan risalah-risalah mereka dengan firman-firman-Nya, yang artinya seperti berikut:
    • “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan),’Sembahlah Allah dan jauhilah Thaghut.” (An-Nahl: 36).
    • “Allah memilih utusan-utusan dari malaikat dan dari manusia sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Al-Hajj: 75).
    • “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus,Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (An-Nisa’: 163-165).
    • “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (Al-Hadid: 25).
    • “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang’.” (Al-Anbiya’: 83).
    • “Dan Kami telah mengutus rasul-rasulsebelummu, melaikan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.” (Al-Furqan: 20).
    • “Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israel, tatkala Musa datang kepada mereka.” (Al-Isra’: 101).
    • “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa Putera Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh, agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka dan Dia menyediakan bagi orang-orang kafir siksa yang pedih.” (Al-Ahzab: 7-8).
  2. Penjelasan Rasulullah saw. tentang diri beliau, dan saudara-saudaranya dari para nabi dan para rasul dengan sabda-sabdanya seperti berikut.
    • “Allah tidak mengutus seorang nabi pun, melaikan ia peringatkan kaumnya dari si buta sebelah yang pendusta, yaitu Al-Masih Ad-Dajjal.” (Diriwatarkan Al-Bukhari dan Muslim).
    • “Janganlah kalian saling melebihkan para nabi.”
    • Ketika Rasulullah saw. ditanya Abu Dzar r.a. tentang jumlah para nabi, dan para rasul, beliau bersabda, “Jumlah nabi ialah seratus dua puluh ribu, dan jumlah rasul ialah tiga ratus tiga belas.”
    • “Seandainya Musa atau Isa masih hidup, maka tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali mengikutiku.” (Diriwayatkan Abu Ya’la).
    • “Itulah Nabi Ibrahim.” Ini beliau ucapkan ketika beliau dipanggil 'hai manusia terbaik'. Beliau tawadhu’ kepada Nabi Ibrahim.
    • “Seorang hamba tidak layak berkata, ‘Sesungguhnya aku lebih baik dari pada Yunus bin Matta’.”
    • Penjelasan Rasulullah saw. tentang para rasul ketika mereka dipertemukan dengan beliau di Baitul Maqdis, dan beliau shalat sebagi imam bagi mereka, beliau bertemu di langit dengan Nabi Yahya, Nabi Isa, Nabi Yusuf, Nabi Idris, Nabi Harun, Nabi Musa, Nabi Ibrahim dan beliau menjelaskan tentang mereka, dan kondisi yang beliau saksikan dari mereka.
    • “Sesungguhnya Nabi Allah, Daud makan dari hasil kerja tangannya.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).
  3. Keimanan miliaran kaum Muslimin, dan selain kaum muslimin dari Ahli Kitab Yahudi, dan Kristen kepada rasul-rasul Allah, dan pembenaran yang kuat terhadap risalah mereka, keyakinan mereka terhadap kesempurnaan mereka, dan pemilihan Allah terhadap mereka.

Dalil-Dalil Akal

  1. Rububiyah Allah Ta’ala, dan rahmat-Nya menghendaki pengutusan rasul-rasul dari-Nya kepada makhluk-Nya untuk mengenalkan mereka kepada Tuhan mereka, membimbing mereka kepada sesuatu yang menyempurnakan kemanusiaan mereka, kebahagiaan mereka di dunia dan kebahagiaan mereka di akhirat.
  2. Penciptaan Allah Ta’ala terhadap makhluk untuk menyembah-Nya seperti yang Dia firmankan, “Dan Aku telah menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku,” (Adz-Dzariyat: 56) itu menghendaki pemilihan rasul-rasul, dan pengutusan mereka untuk mengajari manusia bagaimana cara mereka taat kepada-Nya, karena ibadah dan ketaatan adalah tugas pokok penciptaan mereka.
  3. Sesungguhnya pahala karena ketaatan, dan hukuman karena maksiat menghendaki pengiriman rasul-rasul dan pengutusan para nabi, agar di hari kiamat manusia tidak berkata,”Wahai Tuhan kami, kami tidak tahu cara ketaatan kepada-Mu hingga kami bisa taat kepada-Mu dengan benar, dan kami juga tidak mengetahui apa saja kemaksiatan kepada-Mu hingga kami bisa menjauhinya. Pada hari ini, Engkau tidak mempunyai kezhaliman. Oleh karena itu, jangan siksa kami.” Jika itu terjadi, maka manusia mempunyai alasan seperti itu. Jadi, ini menghendaki pengutusan para rasul untuk memutus argumen manusia seperti di atas. Allah berfirman, “(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (An-Nisa’: 165).

Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 31-35.

Beriman kepada Risalah Muhammad SAW

Orang Muslim beriman bahwa Nabi yang ummi (buta huruf) Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib Al-Hasyimi Al-Qurasyi Al-Arabi yang berasal dari keturunan Nabi Ismail bin Ibrahim kekasih Allah, adalah hamba Allah Ta’ala dan Rasul-Nya yang diutus kepada seluruh manusia. Kenabiannya menutup seluruh kenabian, dan risalahnya menutup semua risalah. Tidak ada nabi dan rasul sesudah beliau.

Allah Ta’ala menyokong beliau dengan mukjizat-mukjizat, dan melebihkannya atas semua para nabi, sebagaimana Dia melebihkan umatnya atas semua umat. Allah Ta’ala mewajibkan mencintai beliau, mentaati beliau, dan mengikuti beliau. Allah Ta’ala mengkhususkan beliau dengan kekhususan yang tidak diberikan kepada siapa pun, seperti Al-Wasilah, surga Al-Kautsar, telaga di surga dan kedudukan yang tinggi. Orang Muslim menyakini itu semua karena dalil-dalil wahyu dan dalil-dalil akal.

Dalil-Dalil Wahyu

  1. Kesaksian Allah Ta’ala dan para malaikat terhadap wahyu yang diterima Rasulullah saw., Allah SWT berfirman (yang artinya), “(Mereka itu mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu), tetapi Allah mengakui Al-Qur’an yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkan dengan ilmu-Nya dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi. Cukuplah Allah yang mengakuinya.” (An-Nisa’: 166).
  2. Penjelasan Allah Ta’ala tentang keumuman risalah Rasulullah saw., kenabian ditutup dengan beliau, kewajiban taat kepada beliau, kewajiban mencintai beliau, dan keberadaan beliau sebagai penutup para nabi dalam firman-firman-Nya, diantaranya adalah firman-firman-Nya berikut ini.
    • “Hai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepada kalian dengan (membawa) kebenaran dari Tuhan kalian, maka berimanlah kalian, itulah yang lebih baik bagi kalian.” (An-Nisa’: 170).
    • “Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kalian Rasul Kami, menjelaskan kepada kalian ketika terputus (peringatan) rasul-rasul, agar kalian tidak berkata, ‘Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan.’ Sesungguhnya telah datang kepada kalian pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Al-Maidah: 19).
    • “Dan Kami tidak mengutus kamu, melaikan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (Al-Anbiya’: 107).
    • “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada merka, mencusikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesata yang nyata.” (Al-Jumu’ah: 2).
    • “Muhammad adalah utusan Allah.” (Al-Fath:29)
    • “Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (Al-Furqan: 1).
    • “Muhammad sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Ahzab: 40).
    • “Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan.” (Al-Qamar: 1).
    • “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar.” (Al-Kautsar: 1).
    • “Dan kelak Tuhanmu pasti memeberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi ridha.” (Adh-Dhuha: 5)
    • “Dan pada sebagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kam ke tempat yang terpuji.” (Al-Isra’: 79)
    • “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya).” (An-Nisa': 59)
    • “Katakanlah, 'Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatir kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya'. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (At-Taubah: 24)
    • “Kalian umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” (Ali Imran: 110)
    • “Dan demikian Kami telah menjadikan kalian (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian.” (Al-Baqarah: 143)
    • “Katakanlah, ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian’.” (Ali Imran: 31)
  3. Penjelasan Rasulullah saw. tentang kenabiannya, penutupan semua kenabian dengan kenabiannya, kewajiban taat kepadanya, dan keumuman risalah dalam hadits-hadits dan sabda-sabdanya, di antara sabda-sabdanya adalah sebagai berikut ini :
    • “Aku nabi yang tidak berdusta, dan aku anak Abdul Muththalib.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim )
    • “Sesungguhnya aku hamba Allah, dan penutup para nabi. Sesungguhnya Adam dilemparkan ke dalam tanahnya.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Ahmad, dan Ibnu Hibban yang menshahihkannya)
    • “Perumpamaanku, dan perumpamaan nabi-nabi sebelumku adalah seperti orang yang membangun rumah, dan mempercantiknya kecuali tempat satu batu bata. Orang-orang mengelilingi rumah tersebut merasa takjub padanya dan berkata, ‘Ah, seandainya batu bata telah diletakkan di sini’. Akulah batu bata tersebut, dan penutup para nabi.” (Muttafaq Alaih)
    • “Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, salah seorang dari kalian tidak beriman hingga aku lebih ia cintai daripada anaknya, ayahnya, dan seluruh manusia.” (Diriwayatkan Al-Bukhari)
    • “Semua dari kalian masuk surga kecuali orang yang tidak mau.” Para sahabat bertanya, “Siapa yang tidak mau masuk surga, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa taat kepadaku, ia masuk surga.” (Diriwayatkan Al-Bukhari)
    • “Sesungguhnya risalah dan kenabian telah terputus. Oleh karena itu, tidak ada rasul dan nabi sesudahku.” (Diriwayatkan Ahmad dan At-Tirmidzi yang menshahihkannya)
    • “Aku dilebihkan di atas para nabi dengan enam hal: aku diberi kalimat yang padat makna, aku ditolong dengan ketakutan (yang dimasukkan ke pihak musuh), rampasan perang dihalalkan bagiku, tanah dijadikan sebagai masjid dan tempat suci bagiku, aku diutus kepada semua manusia, dan para nabi ditutup dengan aku.” (Diriwayatkan Muslim dan At-Tirmidzi).
    • “Barang siapa taat kepadaku, ia taat kepada Allah. Barang siapa bermaksiaat kepadaku, ia bermaksiat kepada Allah. Barang siapa taat kepada gubenurku, ia taat kepadaku. Dan barang siapa bermaksiat kepadaa gubenurku, ia bermaksiat kepadaku.” (Diriwayatkan Al-Bukhari)
    • “Sesungguhnya surga diharamkan kepada seluruh nabi hingga aku memasukinya, dan surga diharamkan kepada umat-umat hingga dimasuki umatku.” (Diriwayatkan Ad-Daruquthi. Hadits ini mempunyai banyak sekali jalur yang menjadikannya sebagai hadits hasan).
    • “Jika hari kiamat terjadi, aku imam para nabi, khatib mereka, dan pemilik syafaat mereka. Tidak ada kesombongan dalam hal ini.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).
    • “Saya penghulu anak keturunan Adam, orang yang pertama kali terbelah kuburnya pada hari kiamat, orang yang pertama kali memberi syafaat, dan orang-orang yang pertama kali diberi syafaat.” (Diriwayatkan Muslim).
  4. Kesaksian Taurat, dan kesaksian Injil tentang pengutusan Rasulullah saw., risalah beliau, kenabian beliau, dan pemberian berita gembira oleh Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa a.s. tentang kedatangan beliau. Allah Ta’ala berfirman mengisahkan tentang ucapan Nabi Isa a.s.
    • “Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, 'Hai Bani Israel, sesungguhnya aku utusan Allah kepada kalian, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)’.” (Ash-Shaff: 6)
    • “(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.” (Al-A’raaf: 157).
    • Disebutkan dalam Kitab Taurat: “Aku akan mengutus untuk mereka seorang nabi sepertimu dari kalangan saudara-saudara mereka, dan Aku jadikan firman-Ku di mulutnya. Ia berbicara kepada mereka dengan segala sesuatu yang Aku perintahkan kepadanya. Barang siapa tidak mentaatinya ucapannya yang ia ucapkan dengan nama-Ku, Aku akan menghukumnya.”
    • Berita gembira yang ada pada Taurat sekarang ikut bersaksi atas kenabian Rasulullah saw., risalah beliau, kewajiban mengikuti beliau, dan keharusan taat kepada beliau adalah hujjah bagi orang-orang Yahudi, kendati mereka menafsirkannya aneh-aneh, dan memungkirinya. Firman Allah Ta’ala, “Aku akan mengutus untuk mereka seorang nabi sepertimu.” Itu bersaksi tanpa ragu atas kenabian Rasulullah saw., dan risalah beliau. Sebab, obyek bicara pada firman di atas adalah Nabi Musa a.s. yang merupakan nabi dan rasul. Barang siapa seperti Nabi Musa, maka ia seorang nabi dan seorang rasul. Firman Allah Ta’ala, “dari kalangan saudara-saudara mereka,” secara tegas menyatakan, bahwa orang yang dimaksud ialah Nabi Muhammad saw., karena beliau orang yang membaca firman Allah, dan menghafalnya yang tidak lain adalah Al-Qur’an. Firman Allah Ta’ala, “ia berbicara kepada mereka dengan segala sesuatu yang Aku perintahkan kepadanya,” juga menjadi saksi atas kenabian Nabi kita Muhammad saw., sebab beliau berbicara masalah ghaib yang tidak pernah dibicarakan nabi selain beliau, dan karena beliau menceritakan apa yang terjadi pada masa lalu, dan apa yang akan terjadi hingga hari kiamat.
    • Disebutkan dalam kitab Taurat seperti berikut, “Hai nabi, sesungguhnya Aku mengutusmu sebagai pemberi khabar gembira, permberi peringatan, dan pelindung bagi orang-orang ummi. Engkau hamba-Ku, dan rasul-Ku. Engkau Aku beri nama Al-Mutawakkil yang tidak berperilaku kasar, tidak berkarakter keras, tidak berteriak-teriak di pasar, dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, namun memaafkan, bermurah hati, dan memberi ampun. Allah tidak akan mencabut nyawanya hinga dengannya Dia meluruskan agama yang bengkok, agar manusia berkata. ‘Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah.’ Dengannya, Allah membuka mata yang buta, telinga yang tuli, dan hati yang tertutup.” (Diriwayatkan Al-Bukhari).
    • Juga disebutkan dalam Taurat, “Mereka menyerangku dengan selain Allah, dan membuatku marah dengan sesembahan-sesembahan mereka yang batil. Dan aku akan menyerang mereka dengan bangsa lain, dan memarahi mereka dengan bangsa jahiliyah.” Ucapan Nabi Musa Alaihis-Salam, “dan memarahi mereka dengan bangsa jahiliyah,” menyatakan, bahwa bangsa jahiliyah yang dimaksud ialah bangsa Arab. Sebab, bangsa tersebut jahiliyah sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw. menjadi nabi dan rasul. Bahkan, orang-orang Yahudi sendiri menamakan orang-orang Arab sebagai orang-orang ummi (buta huruf) seperti terlihat pada ucapan Nabi Musa a.s. di Kitab Taurat, “pedang selalu berasal dari Yahuda, dan pemimpin dari anak keturunannya, hingga datanglah orang yang memiliki segala hal dan ditunggu-tunggu semua umat.” Orang yang ditunggu-tunggu semua umat tidak lain adalah Nabi Muhammad saw., terutama orang-orang Yahudi yang paling serius menunggu kedatangannya dengan pengakuan-pengakuan mereka. Namun, dengki mengharamkan mereka beriman kepada Rasulullah saw. dan menghalangi mereka mengikuti beliau. Allah Ta’ala berfirman, “Padahal sebelumnya mereka memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah atas orang-orang yang ingkar itu.” (Al-Baqarah: 89).
    • Di Injil juga disebutkan banyak sekali berita gembira, di antaranya adalah sebagai berikut :

“Pada hari-hari itu, datanglah Yohannes Al-Ma’madan yang membawa berita gembira kedatangan nabi baru kepada orang-orang Yahudi sambil berkata kepada mereka, ‘Bertaubatlah kalian, karena telah dekat kerajaan langit’.” Yang dimaksud dengan kerajaan langit ialah isyarat tentang kedatangan Nabi Muhammad saw., dan isyarat telah dekat kenabiannya, karena beliau berkuasa dan memutuskan berdasarkan hukum dan langit.

Selain itu, Yohannes Al-Ma’madan membuat perumpamaan bagi orang-orang Yahudi dengan berkata kepada mereka, “Kerajaan langit itu mirip dengan biji sawi yang diambil seseorang, kemudian menanamnya di kebunnya. Biji sawi adalah biji yang paling kecil, namun jika telah berkembang, maka menjadi sayuran yang paling besar.” Perumpamaan di Injil tersebut adalah perumpamaan yang sama yang disebutkan Al-Qur’an Al-Karim ketika Allah Ta’ala berfirman, “dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir.” (Al-Fath: 29). Yang dimaksud dengan tanaman tersebut ialah Rasulullah saw., dan sahabat-sahabatnya.

“Aku pergi, karena jika aku tidak pergi, maka Barqalith (orang terpuji) tidak datang kepada kalian. Jika aku telah pergi, maka aku kirim dia kepada kalian. Jika dia telah datang, dia memarahi dunia karena kesalahannya.” Bukankah kalimat di Injil tersebut secara tegas memberi kabar gembira tentang kedatangan Nabi Muhammad saw.? Siapa yang dimaksud dengan Barqalith (orang terpuji) kalau tidak Nabi Muhammad saw.? Siapa yang memarahi dunia karena kesalahannya kalau tidak Nabi Muhammad saw.? Sebab, ketika beliau diutus, ketika itu dunia berenang di samudera kerusakan dan kejahatan, dan berhalaisme memasang tali temalinya bahkan kepada Ahli Kitab. Siapakah yang datang setelah pengangkatan Nabi Isa a.s. kemudian berdakwah kepada Allah Ta’ala, Tuhan langit dan bumi kalau tidak Muhammad saw.?

Dalil-Dalil Akal

  1. Apa susahnya Allah Ta’ala mengutus Nabi Muhammad saw. sebagai rasul, padahal sebelumnya Dia telah mengutus utusan rasul, dan ribuan nabi? Jika hal tersebut tidak mustahil menurut akal, dan syariat, maka apa alasannya risalahnya diingkari, dan risalahnya kepada seluruh manusia itu ditolak?
  2. Kondisi yang mengiringi diutusnya Rasulullah saw. menghendaki adanya risalah langit dan seorang rasul yang memperbaharui pemahaman manusia terhadap Pencipta mereka, Allah Azza wa Jalla.
  3. Penyebaran Islam dengan cepat ke seluruh belahan dunia, penerimaan manusia terhadapnya, dan pemilihan mereka terhadapnya daripada agama-agama lainnya adalah bukti kebenaran kenabian Nabi Muhammad saw..
  4. Kebenaran prinsip-prinsip yang dibawa Rasulullah saw., kejujuran prinsip-prinsip tersebut, relevansinya, hasilnya yang baik dan berkah itu bersaksi bahwa prinsip-prinsip tersebut berasal dari Allah Ta’ala, dan pembawanya ialah nabi dan rasul Allah Ta’ala.
  5. Terjadinya berbagai mukjizat, dan kejadian-kejadian luar biasa dari tangan Rasulullah saw. Itu mustahil menurut akal, terjadi pada selain nabi dan rasul. Inilah sebagian mukjizat Rasulullah seperti dinyatakan dalam hadits shahih yang mirip dengan hadits mutawatir yang tidak didustakan kecuali oleh orang yang lemah akalnya, atau bahkan tidak mempunyai akal, yaitu:
    • Terbelahnya bulan untuk Rasulullah saw. Al-Walid bin Al-Mughirah, dan orang-orang kafir Quraisy lainnya meminta mukjizat dari beliau yang menunjukkan kebenaran beliau dalam pengakuan beliau sebagai nabi dan rasul. Kemudian bulan terbelah menjadi dua bagian untuk beliau. Satu bagian di atas gunung dan satu bagian lainnya di bawah gunung. Rasulullah saw. bersabda kepada orang-orang kafir Quraisy. “Lihatlah.” Sebagian orang-orang kafir Quraisy berkata, aku lihat bulan di antara dua celah gunung Abu Qabais.” Orang-orang kafir Quraisy bertanya kepada penduduk negeri lain, apakah mereka melihat terbelahnya bulan? Mereka memberi tahu orang-orang kafir Quraisy apa yang mereka lihat. Allah Ta’ala menurunkan ayat, “Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, ‘(Ini adalah) sihir yang terus menerus.’ Dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya.” (Al-Qamar: 1-3)
    • Mata Qatadah r.a. terluka pada Perang Uhud hingga jatuh dari kelopaknya, Rasulullah saw. memasukkannya kembali, dan menjadi lebih indah dari sebelumnya.
    • Kedua mata Ali bin Abu Thalib r.a. sakit pada Perang Khaibar, kemudian Rasulullah saw. meniupnya, lalu sembuh seperti tidak pernah sakit sebelumnya.
    • Betis Ibnu Al-Hakam r.a. putus pada Perang Badar, kemudian Rasulullah saw. meniupnya, lalu sembuh seketika tanpa meresakan sakit sedikit pun.
    • Pohon dibuat berbicara kepada Rasulullah saw. Kisahnya, orang Arab dusun mendekat kepada beliau, kemudian beliau bersabda kepada orang Arab Dusun tersebut, “Hai orang Arab dusun, engkau akan pergi ke mana?” Orang Arab dusun tersebut menjawab, “Pulang ke rumah.” Rasulullah saw. bersabda, “Apakah engkai ingin kebaikan?” Orang Arab dusun tersebut berkata, “Kebaikan apa?” Rasulullah saw. bersabda, “Engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Rasul-Nya.” Orang Arab dusun tersebut berkata, “Siapa yang menjadi saksi atas apa yang engkau katakan?” Rasulullah saw.bersabda, “Pohon ini.” Beliau bersabda begitu sambil menunjuk ke arah salah satu pohon di tepi lembah. Kemudian pohon tersebut berjalan hingga berdiri di depan beliau. Beliau meminta pohon tersebut bersaksi hingga tiga kali, dan pohon tersebut pun bersaksi seperti sabda Rasulullah saw.
    • Ratapan batang pohon kurma kepada Rasulullah saw., dan tangisannya dengan suara keras yang bisa didengar seluruh orang yang berada di masjid beliau. Itu terjadi setelah Rasulullah saw. meninggalkannya. Sebelumnya Rasulullah saw. berkhutbah di atas batang tersebut sebagai mimbar beliau. Ketika beliau telah dibuatkan mimbar, dan tidak naik lagi ke atas batang kurma tersebut, batang tersebut meratap menangis dan rindu kepada Rasulullah saw. Suara tangisnya seperti tangis unta yang hamil sepuluh bulan. Batang pohon kurma tersebut tidak berhenti menangis hingga Rasulullah saw. datang padanya, dan meletakkan tangannya yang mulia di atasnya. Ia pun berhenti menangis.
    • Doa Rasulullah saw. akan tercabik-cabiknya kerajaan Kisra, kemudian kerajaan Kisra pun tercabik-cabik.
    • Doa Rasulullah saw. untuk Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma semoga ia menjadi orang yang faqih dalam agama ini. Hasilnya, Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma menjadi ulama umat ini.
    • Makanan menjadi banyak karena doa Rasulullah saw., hingga dua mud gandum bisa dimakan lebih dari delapan puluh orang.
    • Air menjadi banyak karena doa Rasulullah saw. Di Hudaibiyah, para salabat kehausan. Sedang, di depan Rasulullah saw. terdapat timba kecil tempat beliau berwudhu. Para sahabat datang ke tempat beliau, dan berkata, “Kita tidak mempunyai air, kecuali air yang ada di timba kecilmu.” Kemudian Rasulullah saw. meletakkan tangannya di timba kecil tersebut, dan air pun mengucur dari kedua tangannya seperti mata air. Kemudian para sahabat minum dan berwudhu dari air tersebut. Padahal, mereka berjumlah seribu lima ratus orang.
    • Isra’ dan Mi’raj dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian ke langit yang tinggi hingga tiba di Sidratul Muntaha, kemudian kembali ke ranjangnya tanpa merasakan kedinginan.
    • Al-Quran Al-Karim, yaitu Kitab yang di dalamnya terdapat informasi orang-orang sebelum kita, informasi orang-orang sesudah kita, keputusan masalah yang terjadi pada kita, petunjuk dan cahaya. Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar Rasulullah saw. dan bukti kenabiannya yang abadi sepanjang zaman, agar Al-Qur’an menjadi dalil pasti akan kebenaran kenabian Rasulullah saw., dan menjadi hujjah yang kuat bagi manusia, hingga Allah Ta’ala mewarisi bumi.

Jadi, Al-Qur’an Al-Karim adalah mukjizat teragung yang dianugerahkan kepada Rasulullah saw., dan keterangan terbesar yang diberikan kepada beliau. Tentang Al-Qur’an ini Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah salah seorang dari para nabi, melainkan ia diberi apa yang seperti ayat-ayat yang diimani manusia. Namun yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan Allah kepadaku. Aku berharap menjadi nabi yang paling banyak pengikutnya pada hari kiamat.”

(Sebagian besar mukjizat Rasulullah saw. disebutkan di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Mukjizat-mukjizat yang tidak disebutkan di keduanya disebutkan dalam sunnah yang benar).

Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 35-46.

Beriman kepada Hari Akhir

Orang Muslim menyakini dunia ini mempunyai saat terakhir di mana ia berhenti padanya. Kemudian datang kehidupan kedua, yang tidak mempunyai penghabisan, yaitu hari lain di negeri akhirat. Pada hari tersebut, Allah Ta’ala membangkitkan semua makhluk, mengumpulkan mereka semua kepada-Nya untuk dihisab orang-orang baik dibalas dengan kenikmatan abadi di surga, dan orang jahat dibalas dengan siksa yang menghinakan di neraka.

Hari Kiamat didahului dengan tanda-tandanya, seperti keluarnya Al-Masih Ad-Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj, turunnya Nabi Isa Alahis Salam, keluarnya hewan besar, kemunculan matahari dari barat, dan tanda-tanda lainnya. Dilanjutkan dengan peniupan sangkakala kebangkitan dan berdiri di hadapan Allah, Tuhan semesta alam. Dilanjutkan lagi dengan pembagian buku catatan amal perbuatan. Ada orang yang menerimanya dengan tangan kanan dan ada orang yang menerimanya dengan tangan kiri. Kemudian dilanjutkan dengan peletakan timbangan, dilanjutkan dengan proses penghisaban(perhitungan), dan dilanjutkan dengan pemasangan titian. Dan rentetan ini berakhir dengan menetapnya penghuni surga di surga, dan menetapnya penghuni neraka di neraka. Orang Muslim menyakini itu semua berdasarkan dalil-dalil wahyu dan dalil-dalil akal.

Dalil-Dalil Wahyu

  1. Penjelasan Allah Ta’ala tentang hari akhir dalam firman-firman-Nya, misalnya dalam firman-firman-Nya berikut ini:
    • “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman: 26-27).
    • “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujikalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.” (Al-Anbiya’: 34-35).
    • “Orang-orang kafir mengatakan, bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, ‘Tidak demikian, demi Tuhanku, benar-benar kalian akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.’ Yang demikian itu mudah bagi Allah.” (At-Taghabun: 7).
    • “Tidaklah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar. (yaitu) Hari manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?” (Al-Muthaffifin: 4-6).
    • “Dan memberi peringatan tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan di dalamnya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka.” (Asy-Syura: 7).
    • “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat). Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban beratnya. Dan manusia bertanya, ‘Mengapa bumi (jadi begini)?’ Pada hari itu bumi menceritakan beritanya. Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa melakukan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihatnya. Dan barangsiapa melakukan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihatnya pula.” (Az-Zalzalah: 1-8).
    • “Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka), atau kedatangan Tuhanmu atau kedatangan sebagian tanda-tanda Tuhanmu. Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah, ‘Tunggulah oleh kalian sesungguhnya kami pun menunggu (pula)’.” (Al-An’am: 158).
    • “Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.” (An-Naml: 82).
    • “Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang kafir.” (Al-Anbiya’: 96-97).
    • “Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan, tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya. Dan mereka berkata, ‘Manakah yang lebih baik? Tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)?’ Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar. Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israel. Dan kalau Kami kehendaki benar-benar Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikat-malaikat yang turun-temurun. Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.” (Az-Zukhruf: 57-61).
    • “Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing). Dan terang benderanglah bumi (Padang Mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan. Dan disempurnakan bagi tiap-tiap jiwa (balasan) apa yang telah dikerjakannya dan Dia lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Az-Zumar: 68-70).
    • “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka seseorang tidak dirugikan sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun, pasti Kami datangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.” (Al-Anbiya’: 47).
    • “Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup. Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat. Dan terbelah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung Arasy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. Pada hari itu kalian dihadapkan (kepada Tuhan kalian), tidak ada sesuatu pun dari keadaan kalian yang tersembunyi (bagi Allah). Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata, ‘Ambil, bacalah kitabku (ini).’ Sesungguhnya aku yakin bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai. Di surga yang tinggi. Buah-buahannya dekat (kepada mereka dikatakan), ‘Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu. ‘Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata, ‘Wahai alangkah bainya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dariku.’ (Allah berfirman), ‘Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dulu dia tidak beriman kepada Allah Yang Mahabesar. Dan dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin’.” (Al-Haaqqah: 13-34).
    • “Demi Tuhanmu, sesungguhnya akan Kami bengkitkan mereka bersama syaitan, kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahanam dengan berlutut. Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap golongan siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan kemudian Kami sungguh lebih mengetahui orang-orang yang seharusnya dimasukkan ke dalam neraka. Dan tidak ada seorang pun dari kalian, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan orang-orang yang zhalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” (Maryam: 68-72).
  2. Penjelasan Rasulullah saw. dalam sabda-sabdanya, misalnya sabda-sabdanya berikut ini:
    • “Kiamat tidak akan terjadi hingga seseorang berjalan melewati kuburan orang lain, kemudian ia berkata, ‘Ah, seandainya aku berada di tempatnya’.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).
    • “Sesungguhnya kiamat tidak akan terjadi hingga terjadi sepuluh hal: gerhana di timur, gerhana di barat, gerhana di Jazirah Arab, Dajjal, asap dan hewan besar, Ya’juj dan Ma’juj, terbitnya matahari dari barat, api keluar dari dalam Aden yang mengusir manusia, dan turunnya Nabi Isa.” (Diriwayatkan Muslim).
    • “Dajjal muncul di umatku kemudian hidup selama empat puluh (hari, bulan, atau tahun), kemudian Allah mengutus Isa bin Maryam yang mirip dengan Urwah bin Mas’ud yang kemudian mencarinya dan membunuhnya. Setelah itu, manusia hidup selama tujuh tahun tanpa ada permusuhan di antara dua orang. Kemudian, Allah mengirimkan angin dingin dari arah Syam. Maka, tidak tersisa di atas permukaan bumi orang yang di dalam hatinya terdapat kebaikan atau keimanan sebesar biji atom, melainkan direnggut oleh angin tersebut. Bahkan kalau seandainya salah satu di antara kalian masuk ke tengah gunung, maka angin dingin masuk kepadanya dan merenggutnya. Yang tersisa ialah orang-orang jahat dalam kebodohan seperti burung, dan dalam mimpi-mimpi binatang buas. Mereka tidak mengenal kebaikan dan tidak memungkiri kemungkaran. Kemudian syaitan muncul kepada mereka dan berkata kepada mereka, ’Kenapa kalian tidak merespon ajakanku?’ Mereka berkata, ‘Apa yang engkau perintahkan kepada kami?’ Syaitan menyuruh mereka menyembah berhala. Dalam kondisi seperti itu, rizki mereka banyak dan kehidupan mereka enak. Kemudian, sangkakala ditiup. Maka, tidak ada seorang pun yang mendengarnya melainkan ia memiringkan sisi lehernya (agar bisa mendengar), dan mengangkatnya. Orang yang pertama kali mendengar tiupan sangkakala ialah orang yang sedang melepa kolam untanya. Orang tersebut pun pingsan, begitu juga semua manusia. Kemudian, Allah menurunkan hujan seperti tetesan embun. Kemudian, dari air hujan tersebut tumbuhlah badan manusia. Sangkakala ditiup lagi pada manusia, tiba-tiba mereka berdiri saling memandang yang lain. Dikatakan kepada mereka, ’Hai manusia, mari pergi kepada Tuhan kalian. (Tahanlah mereka, karena sesungguhnya mereka akan ditanya) (Ash-Shaffat: 24).’ Kemudian dikatakan, ’Keluarkan penghuni neraka.’ Ditanyakan, ’Sejak kapan?’ Dikatakan, ’Dari setiap tahun sejumlah sembilan ratus sembilan puluh sembilan’. Itulah hari di mana (anak kecil menjadi tua) dan (hari tersingkapnya betis).” (Diriwayatkan Muslim).
    • “Hari kiamat tidak akan terjadi kecuali pada orang-orang jahat.” (Diriwayatkan Muslim).
    • “Jarak antara dua tiupan sangkakala adalah empat puluh (hari, atau bulan, atau tahun), kemudian Allah menurunkan hujan dari langit kemudian manusia tumbuh seperti tumbuhnya sayuran. Tidak ada anggota badan manusia melainkan diuji, kecuali satu tulang, yaitu tulang di bawah. Dari tulang tersebut, manusia disusun pembentukannya pada hari kiamat.” (Diriwayatkan Muslim).
    • Sabda Rasulullah saw. ketika berkhutbah, “Hai manusia, sesungguhnya kelak kalian dikumpulkan kepada Tuhan kalian dalam keadaan telanjang kaki, telanjang badan, dan tidak khitan. Ketahuilah, bahwa orang yang pertama kali dikenakan pakaian ialah Ibrahim a.s. Ketahuilah bahwa Nabi Ibrahim didatangkan dengan beberapa orang dari umatku, kemudian mereka dibawa ke sebelah kiri. Aku berkata, ’Wahai Tuhanku, mereka sahabat-sahabatku?’ Allah berfirman, ’Engkau tidak tahu apa yang mereka kerjakan sepeninggalmu’.” (Diriwayatkan Muslim).
    • “Kedua kaki seorang hamba tidak bisa bergerak hingga ia ditanya tentang empat hal: tentang umurnya di dalam hal apa saja ia gunakan, tentang ilmunya apa saja yang telah ia amalkan, tentang hartanya dari mana ia mendapatkannya dan ia infakkan untuk apa saja, dan tentang badannya di dalam apa saja ia habiskan.” (Diriwayatkan At-Tarmidzi. At-Tarmidzi berkata bahwa hadits ini hasan shahih dan juga disebutkan Muslim di Shahih-nya).
    • “Telagaku (luasnya) adalah perjalanan sebulan. Airnya lebih putih dari pada susu, aromanya lebih wangi daripada kesturi, dan tekonya seperti bintang-bintang di langit. Barang siapa minum airnya, ia tidak akan haus selama-lamanya.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, At-Tarmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim).
    • Sabda Rasulullah saw. kepada Aisyah Radhiyallahu Anha ketika ia ingat neraka kemudian menangis, “Kenapa engkau menangis?” Aisyah menjawab, “Aku ingat neraka kemudian menanngis. Apakah engkau ingat keluargamu pada hari kiamat?” Sabda Rasulullah saw., Ada tiga tempat di mana seseorang tidak ingat pada orang lain: Di saat berada di timbangan, hingga ia tahu apakah timbangannya ringan atau berat? Di saat buku-buku catatan berterbangan, hingga ia tahu di mana buku catatannya jatuh, di tangan kanannya ataukah di tangan kirinya, ataukah di belakang punggungnya? Dan di titian ketika dipasangkan di antara tepi Jahannam hingga ia berhasil menyeberanginya.” (Diriwayatkan Abu Daud dengan sanad hasan).
    • “Setiap nabi mempunyai doa dan ia telah berdoa dengannya untuk umatnya. Sedang aku merahasiakan doaku sebagai syafaat untuk umatku.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, At-Tarmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Malik, Ad-Darimi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim yang men-shahih-kannya).
    • “Aku penghulu anak keturunan Adam dan tidak ada kesombonngan dalam hal ini. Aku orang yang pertama kali tanahnya terbelah pada hari kiamat dan tidak ada kesombongan dalam hal ini. Aku pemberi syafaat pertama kali dan orang yang pertama kali syafaatnya diterima dan tidak ada kesombongan dalam hal ini. Panji pujian ada di tanganku pada hari kiamat dan tidak ada kesombongan dalam hal ini.” (Diriwayatkan Muslim).
    • “Barang siapa meminta surga kepada Allah hingga tiga kali, maka surga berkata, ‘Ya Allah, masukkan orang tersebut ke surga.’ Barang siapa berlindung diri dari neraka hingga tiga kali, maka neraka berkata, ‘Ya Allah, lindungilah orang tersebut dari neraka’.” (Diriwayatkan At-Tarmidzi, Ibnu Majah, An-Nasai, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).
  3. Keimanan jutaan para nabi, rasul, ulama, dan orang-orang shalih kepada hari akhir dan apa saja yang terjadi di dalamnya.

Dalil-Dalil Akal

  1. Kebaikan kekuasaan Allah Ta’ala untuk mengembalikan manusia setelah kematian mereka. Sebab, pengembalian mereka itu tidak lebih sulit dari penciptaan mereka tanpa contoh sebelumnya.
  2. Tidak ada sesuatu yang bertentangan dengan akal pada hari kebangkitan dan hari pembalasan. Sebab, akal hanya memungkiri dan memustahilkan pertemuan dua hal yang saling berlawanan dan dua hal yang saling kontradiksi. Hari kebangkitan dan hari pembalasan sedikit pun tidak masuk dalam pembahasan tersebut.
  3. Hikmah Allah Ta’ala yang terlihat dalam semua tindakan-Nya terhadap seluruh makhluk-Nya dan hikmah-Nya yang menjelaskan segala sesuatu itu mustahil menurut akal tidak menghendaki adanya hari kebangkitan bagi makhluk setelah kematian mereka, dan tidak berakhirnya kehidupan dunia, serta tidak adanya balasan atas perbuatan buruk mereka.
  4. Keberadaan dunia dengan kenikmatan, dan penderitaan yang ada di dalamnya menjadi bukti adanya kehidupan lain di alam lain di mana di dalamnya terdapat keadilan, kebaikan, kesempurnaan, kebahagiaan, dan penderitaan yang jauh lebih banyak daripada di dunia. Kehidupan di dunia dengan kebahagiaan dan penderitaan di dalamnya tidak lebih dari sehelai daun kecil jika dibandingkan istana megah, atau taman asri di akhirat.

Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 46-56.